Monday, March 10, 2008

BLOG INI DITUTUP

Blog ini mulai sekarang ditutup. Saya pindah ke www.indrakusumah.com
Syukran jazakallah khairan katsira

Thursday, February 28, 2008

GERAKAN MAHASISWA HARUS BERTRANSFORMASI


Wawancara Saya di Harian Pikiran Rakyat edisi Kamis, 28 Februari 2008: http://pikiran-rakyat.com/index.php?mib=beritadetail&id=13606

BOLEH dibilang, tidak banyak aktivis pergerakan mahasiswa yang menuangkan konsep-konsep perjuangannya dengan menulis. Dalam hal ini berbentuk buku. Setidaknya, itu dirasakan oleh Indra Kusumah, mantan Presiden BEM Keluarga Mahasiswa (Kema) Unpad 2005-2006. "Jarang, mereka yang aktif di jalanan yang sekaligus penulis juga," kata lulusan Psikologi Unpad ini.

Indra ingin mendobrak kebekuan itu dan berbagi pengalamannya selama ini. Ia baru saja meluncurkan buku berjudul Risalah Pergerakan Mahasiswa. Bahkan, Rektor Unpad Prof. Dr. Ganjar Kurnia, Ir., D.E.A., turut duduk bersamanya membedah isi buku tersebut di Faperta Unpad Jatinangor, Rabu (20/2). Diskusi buku yang digelar tepat satu hari sebelum 21 Februari sebagai peringatan Hari Mahasiswa Sedunia, yang tahun ini menginjak tahun ke-62, bukannya tanpa alasan.

Indra berniat memaknai kembali hari bersejarah gerakan mahasiswa dunia itu, yang kini seolah terlupakan atau masih kurang familiar bagi para mahasiswa Indonesia. Selain itu, baginya, momentum seperti hari peringatan tersebut bisa dijadikan sarana akselerasi wacana pergerakan. Menurut dia, salah satu yang terpenting dalam pergerakan kemahasiswaan kini adalah jangan takut bertransformasi, mulai dari wacana yang difokuskan sampai dengan metode yang digunakan. "Adaptif dengan dinamika zaman," kata Indra, kelahiran Tasikmalaya, 21 Juli 1982.

Dalam buku setebal 97 halaman itu, Indra mengupas luasnya dunia pergerakan mahasiswa secara ringkas, mulai dari sejarah, prinsip gerakan mahasiswa, strategi, nilai yang harus dianut, hingga hal-hal praktis seperti musyawarah, dan manajemen aksi. Buku ini boleh jadi tidak banyak mengupas wacana-wacana gerakan mahasiswa terkini, namun lebih pada pijakan awal yang wajib diketahui oleh mereka yang mulai bergelut dalam pergerakan mahasiswa.

Dituturkan Indra, ia hanya menuliskan apa yang menjadi pengalamannya dan berharap gelora perjuangan mahasiswa tetap hidup. Sekaligus, buku itu bisa menjadi stimulus bagi lahirnya buku-buku berikutnya tentang aktivisme mahasiswa. Ia mencetak bukunya melalui penerbitan mandiri atas nama Indydec (Indonesian Youth Development Center), sebuah LSM kepemudaan yang didirikannya bersama beberapa orang teman sesama pegiat di BEM se-Bandung Raya. Berikut obrolan lanjut dengan Indra, yang kini tengah menempuh studi Pascasarjana Pengkajian Ketahanan Nasional, Konsentrasi Kajian Strategik Pengembangan Kepemimpinan, Universitas Indonesia.

Nilai-nilai atau prinsip apa yang harus dipegang dalam aktivisme gerakan mahasiswa?

Mahasiswa harus punya kejelasan ideologi, pemikiran gerakannya jelas, dan meyakini bahwa etika pergerakan serta perilaku organisasi yang lurus adalah syarat kemenangan sebuah gerakan. Sebaliknya, kemaksiatan dan pengkhianatan adalah awal dari kekalahan gerakan. Tentang kepemimpinan, idealnya harus menampilkan kepemimpinan yang tidak berlebih-lebihan. Contoh, tahun 1966. Yang masuk ke DPR dulu, ada yang berstatus mahasiswa sebagai perwakilan mahasiswa. Tetapi mereka kemudian justru lupa dengan idealisme awal. Hidupnya borju, akhirnya dicaci maki oleh kalangan mahasiswa sendiri.

Mahasiswa jangan menggunakan jabatan atau nama lembaga untuk kepentingan pribadi. Misalnya, banyak juga oknum aktivis mahasiswa yang hidupnya dari proposal fiktif. Selain itu, coba lakukan juga aktivitas pergerakan yang intelektual dan inklusif. Jauhi kerja-kerja anarkis dan mengeksklusifkan diri khusus untuk golongan tertentu. Bagi saya, gerakan mahasiswa itu berbasis intelektual, elegan, egaliter, tidak harus tampil meledak-ledak. Gerakan yang berbasis rasionalitas kuat, tidak hanya emosionalitas yang bermain. Jangan sampai aktivis mahasiswa tidak menguasai wacana yang ia perjuangkan atau tidak mengenal petanya. Nanti orang bisa menertawakan.

Gerakan mahasiswa tidak selalu identik dengan aspek politik saja, tapi juga integral seluruh sisi hidup kemahasiswaan. Kalau ada mahasiswa berkontribusi di bidang penalaran, atau pengabdian masyarakat, itu juga bisa. Yang jelas, mahasiswa jangan terlibat di politik kekuasaan, apalagi untuk mencari kemapanan finansial.

Jika sebagai kontrol sosial, mahasiswa terlibat dalam politik kekuasaan belum tentu buruk bukan?

Memang, tetapi saya cenderung tidak setuju kalau mahasiswa masuk gerakan politik kekuasaan. Mahasiswa harusnya menganut politik nilai. Kalau sudah bukan mahasiswa lagi, ya silakan. Saya kurang setuju dengan pendapat Fadjroel Rachman (mantan aktivis mahasiswa 1980-an), bahwa kalau perlu mahasiswa bikin partai politik mahasiswa saja, lalu masuk kekuasaan.

Tugas utama mahasiswa adalah belajar, bukan menjadi pengurus partai politik. Ini pelajaran dari angkatan 60-an, banyak yang kuliahnya nggak beres, karena masuk jadi anggota DPR, dsb., sekolahnya jadi terbengkalai, padahal negeri ini pun harus dibangun dengan ilmu. Ada tiga tahap kontribusi dalam gerakan. Pertama, aktivitas mahasiswa di gerakan mahasiswa. Kedua, bidang profesi, seperti membangun profesionalisme, jaringan, dan kemapanan finansial. Baru deh, tahap ketiga, kalau mau silakan terlibat di politik. Sekali lagi, berpolitik jangan sampai bertujuan untuk mencari kemapanan finansial.

Satu dasawarsa reformasi, bagaimana dengan berjalannya agenda reformasi?

Dalam reformasi, perubahan itu tergantung antara kekuatan reformis dan status quo. Yang jadi masalah, ketika status quo melakukan rekonsilidasi. Itu yang menyebabkan reformasi tertatih-tatih dan agenda reformasi mati suri seperti sekarang. Boleh dibilang, kekuatan orde baru atau neo orde baru, bisa kembali dan memiliki pengaruh signifikan. Maka, wacana yang perlu dikembangkan mahasiswa adalah selamatkan reformasi dan hati-hati dengan neo orba. Coba lihat yang menang pemilu, orang-orangnya masih yang lama, pemikirannya juga masih lama.

Memang, terkadang mahasiswa terjebak dalam milenarisme sejarah, alias romatisme masa lalu. Dulu tuh tahun 1998 bla bla bla. Ya itu kan dulu. Lalu, kamu sendiri, gagasannya apa yang hari ini akan diusung? Hari ini pertarungan bukan hanya jalanan, tetapi lebih pada pertarungan ide, di mana mahasiswa harusnya bisa jadi sumber inspirasi tiada habis.

Kaum muda yang memunculkan reformasi, tetapi mengapa tidak ada pemimpin muda lahir dari sana?

Saya lebih evaluasi ke kita nya, sebagai elemen muda. Kepemimpinan kan kata kuncinya adalah keunggulan. Siapa yang memiliki keunggulan, otomatis akan memimpin. Kepemimpinan tidak perlu minta-minta kan? Malu-maluin aja kalau minta-minta begitu. Coba mahasiswa bangun kompetensi, miliki keunggulan, itu baru social power.

Kita harus menyiapkan gerakan mahasiswa secara terpadu. Pergerakan tidak hanya sosial politik, tetapi juga perbanyak kajian-kajian, seminar, penelitian, karena itu bagian dari gerakan mahasiswa. Sehingga, saatnya nanti terlibat dalam masyarakat, bisa jadi mahasiswa "palugada", alias apa lu mau gua ada, hehehe.

Konteks gerakan mahasiswa harus selalu bersifat aktual. Lalu, jika dikaitkan dengan semakin mahalnya biaya pendidikan sekarang, bagaimana?

Makanya, di bagian akhir buku saya cantumkan tentang perlunya melakukan transformasi gerakan mahasiswa. Saya masukkan beberapa kondisi kekinian mahasiswa dan kampus, misalnya, tradisi ilmiah yang lemah, tuntutan akademik lulus cepat yang berpengaruh pada gerakan, buruknya kualitas pengajar dan kurikulum, kemunduran akhlak, isu pergerakan yang kurang membumi, polarisasi gerakan, termasuk kuliah yang semakin mahal.

Ketika kuliah semakin mahal, banyak orang kaya yang masuk, bisa jadi tidak punya empati pada permasalahan rakyat, karena sudah merasa membayar. Jadi, yang penting kuliah saja dan tidak peduli hal lain. Ini bisa menyebabkan tingkat kekritisan dan empati mahasiswa berkurang. Hari demi hari mahasiswa jadi entitas yang teralienasi dari masyarakatnya sendiri. Hanya kuliah, yang kemudian nanti lulus dan berbaris dalam deretan panjang pencari kerja. Tentunya, sayang kalau seperti itu saja.

Menurut saya, mahasiswa jangan terlalu terpaku pada satu metode gerakan. Jangan sampai tahun dulu gerakannya begitu, sekarang selalu begitu, padahal tuntutannya beda. Jangan sampai menghadapi masalah hari ini dengan pikiran masa lalu. Harus ada transformasi isu, yang tadinya cenderung politik saja, tapi sekarang meluas jadi ekonomi, sosial, budaya, lingkungan, dsb. Juga, transformasi gerakan, misalnya tadinya turun ke lapangan hanya pada saat ada masalah baru muncul seperti koboi, tapi bagaimana sekarang mengoptimalkan semua bentuk advokasi. Jangan hanya terpaku dengan aksi, karena itu hanya satu metode. Untuk manajemen aksi, optimalkan semua saluran komunikasi, dari mulai obrolan sampai teknologi seperti internet.

Terkait gerakan mahasiswa Indonesia yang terpolarisasi dan terfragmentasi oleh ideologi dan kepentingan?

Menurut saya, tidak ada sejarahnya semua organisasi mahasiswa bersatu kompak. Perbedaan adalah keniscayaan, dan tidak selalu harus disatukan, karena bisa jadi itu sebuah kekayaan. Yang harus dibangun dalam polarisasi adalah, kematangan dalam gerakan dan kesiapan untuk berbeda. Kalau disamakan mungkin susah juga, tetapi kalaupun berkonflik, bagaimana konflik itu yang fungsional, bukan disfungsional. Kalau mau konflik yang produktif dan cerdas, debatnya ilmiah, bukan dengan cara-cara yang tidak elegan. Sekarang sih masalahnya, sudah terpolarisasi, saling mencurigai pula, dan jarang mau berinteraksi. Itu sayang sekali. ***

dewi irma
kampus_pr@yahoo.com

Tuesday, January 08, 2008

RISALAH PERGERAKAN MAHASISWA

TELAH TERBIT BUKU "RISALAH PERGERAKAN MAHASISWA"

Assalamu ‘alaikum Wr Wb

Sahabat, alhamdulillah buku Saya berjudul “Risalah Pergerakan Mahasiswa” sudah terbit. Kata Pengantar dari Dr H M Hidayat Nur Wahid, MA. Penerbitnya INDYDEC Press.

Berikut ini adalah komentar tentang buku tersebut:

“Dengan bahasa yang mudah dicerna, Indra mengupas pergerakan mahasiswa secara komprehensif: mulai dari sejarah, nilai-nilai/etika yang harus dianut sampai ke hal-hal praktis seperti musyawarah dan manajemen aksi (baca: demonstrasi). Sebuah buku yang wajib dibaca oleh para mahasiswa yang ingin jadi aktifis pergerakan!”

Prof. Dr. Ganjar Kurnia, Ir., DEA., Rektor Universitas Padjadjaran

“Sang penulis tahu betul apa yang ditulisnya. Sesungguhnya ia hanya menuliskan apa yang telah dilakukannya. Karenanya amat detail dan penuh semangat. Tapi disinilah kelebihan buku ini; mudah dicerna dan diimplementasikan. Dan yang terpenting mampu menularkan gelora perjuangan gerakan mahasiswa dari generasi ke generasi, dari kampus ke kampus, bahkan dari negara ke negara.

Buku ini juga melepas dahaga dari kemarau panjang gerakan mahasiswa. Dunia kampus kini terasa kian pragmatis, materialistik, bahkan hedonistik. Kampus kian gersang dari igauan idealistik. Penulis seperti tengah mengumpulkan serpihan yang tersisa. Ia ingin membangunnya kembali, sebelum semua akar-akar pergerakan dan jiwa juang akhirnya meranggas dan tercerabut dari jati diri mahasiswa. Semoga apa yang diupayakan menjadi momentum kebangkitan. Terus berjuang!!!”

Mustafa Kamal, S.S., Anggota DPR-RI 2004-2009

“Inilah buku yang telah lama dinanti. Kehadirannya diharapkan mampu mengalirkan atmosfir baru pergerakan, dimana pergerakan pemuda akan senantiasa hidup dan menjadi oase semangat dalam rangka rekonstruksi peradaban umat manusia. Keterpaduan gerakan pemuda dan mahasiswa akan menjadi garda terdepan arus perubahan menuju perbaikan. Saatnya mengembalikan kepahlawanan pemuda kita. Ar rajulu ibnu bi’atihi!!!”

Tri Wahyu Yunianto, Presiden BEM STT Telkom 2005-2006, Direktur Kajian & Advokasi INDYDEC.

“Buku yang ditulis oleh Indra Kusumah ini menginspirasi sebuah fase gerakan mahasiswa dengan keunikan yang khas dan pendekatan berbeda dari fase gerakan sebelumnya. Keunikan khas dari buku ini adalah keberanian penulis meramu tiga pilar gerakan mahasiswa: agama, idealisme dan responsif terhadap isu-isu aktual kemasyarakatan. Sedangkan pendekatan yang berbeda dari fase gerakan sebelumnya terletak pada pola gerakan yang tertib, terkendali, dan memiliki visi yang responsif, tidak radikal namun tetap militan. Buku ini disajikan dengan tutur dan bahasa yang mengalir, sangat baik dijadikan referensi bagi para mahasiswa dan aktifis post 98 yang memiliki tantangan gerakan yang lebih kompleks.”

Muradi, Mantan Kordinator Forum Mahasiswa Bandung tahun 1998, Dosen Ilmu Pemerintahan FISIP Universitas Padjadjaran.

“Menjadi bagian dari sebuah pergerakan benar-benar telah terasa oleh penulis. Tanggung jawab moral terhadap keberlangsungan pergerakan pemuda telah mendorong penulis membuat buku ini. Buku yang bisa menjadi referensi bagi pemuda/kaum pergerakan untuk membangun peradaban yang lebih baik. Semoga buku ini bisa menjadi stimulus bagi lahirnya peradaban madani. Hidup mahasiswa!”

Rizal Tanzil Rahman, Presiden BEM STT Tekstil 2005-2006.

“Buku ini bagus sebagai pengetahuan para aktifis mahasiswa yang hari ini dituntut secara ilmiah dan objektif, dengan didukung basis rasionalitas dan data-data yang kuat.”

Prof. Dr. TB Zulrizka Iskandar, S.Psi., M.Sc., Pakar Psikologi Sosial.

“Cerdas dan lugas! Kepada mereka yang ingin menjadi penyelamat masyarakat sejati, bacalah buku ini!”

Johan Khan, Aktifis Pergerakan Mahasiswa BEM Se-Bandung Raya.

Bagi yang berminat, bisa memesan ke Saudara Rizal Tanzil, SST (Sekjen INDYDEC) dengan nomor kontak 081573086106.

Apabila ada yang berminat sharing atau bedah buku yang terkait penulisnya, bisa langsung menghubungi Saya. Informasi tentang buku ini bisa diforward ke jaringan sahabat-sahabat yang memiliki perhatian dengan gerakan mahasiswa.

Atas perhatian sahabat semua, Saya ucapkan terima kasih.

Wassalamu’alaikum Wr WB.

Tuesday, December 04, 2007

SERUAN TRANSFORMASI KEBANGKITAN

Kepada para mahasiswa Indonesia....

Kepada jiwa-jiwa muda yang telah saling berjanji untuk berjuang di jalan ini...

Kepada para aktifis.....

Tragedi demi tragedi kemanusiaan yang memilukan menghiasi hari-hari kita. Bukan hanya Indonesia, bahkan dunia. Hegemoni neo-imperialis, neoliberalis dan kapitalisme global mencengkeram kuat masa depan peradaban kita. Kita sudah sepakat untuk tidak diam tergagu. Tiada Jalan lain kecuali satu kata: LAWAN!

Kita telah, sedang, dan akan terus menapaktilasi jalan panjang perubahan yang merupakan kata kunci kebangkitan. Kesiapan untuk konsisten, persisten dan resisten di jalan ini dibangun atas kesadaran karakter perjuangan yang penuh beban berat (tsiqalul a’ba), banyak hambatan (katsrotul ‘aqabat), sedikit pengikut (qillatus salikin) dan perjalanan yang panjang (thulu thariq).

Lama memang. Tapi ia merupakan sebuah keniscayaan yang bisa dipercepat dan sebuah kepastian yang bisa dipersingkat, karena ia adalah megaproyek kebangkitan evolusioner akseleratif.

Kita memang bukan yang pertama melewati jalan ini. Sebelumnya telah berlalu para pahlawan keagungan, pejuang keadilan dan petarung kebenaran (semoga rahmat dan kasih sayang-Nya senantiasa dicurahkan kepada mereka). Napak tilas yang kita lakukan adalah melanjutkan estafeta perjuangan para pendahulu untuk menyelesaikan megaproyek kebangkitan bangsa ini.

Maka, tiada jalan lain bagi kita kecuali terus membangun dan memperkokoh 7 (tujuh) pilar transformasi kebangkitan sebuah bangsa, yakni:

 Ketergugahan Spiritual (Al Yaqdzah Ar Ruhiyyah)
Kita telah, sedang dan akan terus memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta (Quwatush shillah billah) sehingga kita memiliki keterarahan spiritual. Energi keterarahan spiritual ini yang akan kita arahkan untuk mengarahkan spiritualitas bangsa sehingga masyarakat ini mengalami ketergugahan spiritual secara masif.

 Keterbangkitan Pemikiran (Ash Shohwah Al Fikriyyah)
Kita telah, sedang dan akan terus membuka pemikiran kita kepada kebenaran hikmah dan ilmu sehingga merasakan ketersadaran pemikiran. Energi kegundahan dan kegelisahan yang lahir dari ketersadaran pemikiran akan kita gunakan untuk menggedor struktur kesadaran bangsa ini sehingga mereka sadar akan hak dan kewajiban mereka dan memperjuangkan kemulian harga diri mereka.

 Penguasaan Pemahaman Teori (Al Ihathoh An Nadzariyyah)
Kita telah, sedang dan akan terus membiasakan diri dalam pertarungan ide, pergumulan gagasan dan perkelahian wacana sehingga kita mampu membuktikan keunggulan manhaj rabbani, dan memformulasikan teori-teori serta rumus-rumus solutif atas berbagai permasalah masyarakat kontemporer. Teori dan rumus alternatif solutif yang berasal dari Sang Pencipta ini akan menuntun kita sehingga perjuangan kita dibangun di atas basis rasionalitas yang kuat dan konsep yang tangguh. Sehingga seluruh dunia mengakui dan merasakan bahwa generasi baru ini adalah solusi.

 Pengetahuan Medan (Al Ma’rifah Al Maidaniyyah)
Kita telah, sedang dan akan terus terjun langsung berinteraksi dan berpartisipasi dengan masyarakat kita dalam membangun kemuliaannya sehingga kita mengenal betul seluk beluk permasalahan mereka. Kita tidak akan pernah membuat benteng dengan mereka apalagi menjadi musuh mereka. Kita mencintai mereka jauh melebihi cinta kepada diri kita dan kita pun bangga seandainya jiwa kita harus menjadi tumbal atas kejayaan umat ini.

 Sistematika Strategi (Abjadiatul Khutuwat)
Kita telah, sedang dan akan terus melaksanakan langkah-langkah perjuangan yang sistematis dan konseptual dalam melakukan mobilitas vertikal (At ta’biah al ‘amudiyyah) dan mobilitas horizontal (At ta’bi’ah al afaqiyyah) demi tegaknya kebenaran dan keadilan. Abjadiat perjuangan akan menghindarkan kita dari perjuangan yang tambal sulam, tergesa-gesa dan serabutan.

 Soliditas Struktural (Al Matanah At Tandzimiyyah)
Kita telah, sedang dan akan terus membangun struktur pergerakan yang tangguh, kokoh dan solid dalam aspek aktifitas dan personilnya. Pergerakan yang tak mudah dipecah belah, diadu domba dan disusupi para pengkhianat.

 Kebangkitan Pergerakan (An Nahdloh Al Harokiyyah)
Kita telah, sedang dan akan terus bergerak menjadi garda inti yang menggerakan bangsa ini. Tatkala bangsa ini telah bergerak dengan terarah dan sinergis, maka detik demi detik hanya akan menjadi saksi semakin mendekatnya kejayaan.

Saatnya nanti, gelombang kebangkitan generasi baru kan bergemuruh di seluruh dunia. Akselerasi pergerakan yang semakin masif pun menjadi realitas tak terbendung. Keadilan akan kembali menampakkan jati dirinya yang mulia dan daya ekspansinya yang memukau.

Realitas hari ini memang masih memiliki jarak yang sangat jauh dengan idealita. Tugas kita lah untuk menikahkan idealita dengan realitas. Sehingga tidak ada jarak antara keduanya.

Itulah pekerjaan kita.

Bukan begitu, wahai Indonesia muda?


Marilah kawan mari kita kabarkan
Di tangan kita tergenggam arah bangsa
Marilah kawan mari kita nyanyikan
Sebuah lagu tentang pembebasan

Monday, December 03, 2007

AKU KAN MENJADI AYAH...!!!

Saya pernah membuat tulisan berjudul "Surat untuk Calon Anakku". Tulisan itu Saya publish di blog ini dan mengundang komentar yang cukup banyak. Ada kawan yang mengcopy dan menampilkan juga di blog pribadinya.

Surat tersebut tidak hanya sebuah tulisan, tapi lebih jauh dari itu. Ia adalah doa dan harapan kepada Allah.

Kini, tampaknya doa tersebut dikabulkan Allah... Hari sabtu kemarin Saya mengantar istri ke Rumah Sakit Al Islam... Istri Saya mulai mengandung....

Aku akan menjadi Ayah....!!!!

Alhamdulillah ya Rabbana....

Mohon doa restu juga dari sahabat semua....

ANTUSIASME

Mari lebih dekat dengan sang juara sejati. Anda akan merasakan aura antusiasme di sekelilingnya. Ada gairah kerja yang luar biasa dalam dirinya. Sang juara menyadari bahwa gairah adalah udara kehidupan. Maka iapun senantiasa hidup dan senantiasa mampu merevitalisasi motivasinya dengan antusias dan gairah hidup yang menggelora.

Tanpa gairah, kehidupan akan mati. Bahkan itulah kematian yang sebenarnya. Dan itu tanda bahwa tidak ada tuhan dalam jiwa kita. Antusiasme berasal dari kata “en” dan “theos” yang artinya “Tuhan di dalam”. Ketidakgairahan kerja dan ketidakhadiran antusiasme dalam diri kita merupakan indikator lemahnya kehadiran Tuhan dalam diri, maka ia akan kehilangan masa depan. Sedangkan sang juara senantiasa memiliki antusiasme karena ada Tuhan dalam hatinya.

Lihatlah Thomas Alfa Edison yang senantiasa bergairah melakukan penelitian demi penemuan-penemuan besar dalam dunia ilmu pengetahuan. Teman-temannya merasa heran dengan daya tahan Thomas Alfa Edison yang mampu terus bekerja dengan antusias dalam waktu lama. Ketika ditanya apa rahasianya, Edison hanya tersenyum dan balik bertanya, “Bekerja? Siapa bilang Saya bekerja? Saya tak pernah bekerja seharipun dalam hidupku. Semua yang kulakukan adalah keasyikan demi keasyikan!”.

“Helmi Yahya itu tidak perlu beristirahat, karena istirahatnya dengan bekerja”. Demikian ungkapan Baban Sarbana, Direktur ILNA Learning Centre, ketika menceritakan Helmi Yahya, Presenter Kuis Siapa Berani, yang senantiasa memiliki gairah kerja yang kontinyu serta ide-ide kreatif yang seolah tak pernah habis.

Sang juara sejati tidak memberikan peluang kepada kebosanan untuk tumbuh dan berkembang. Memang secara fitrah ia terkadang terhinggapi kebosanan, namun ia memiliki keterampilan jiwa untuk mengisolasi sang bosan sehingga tidak menular. Maka sang bosan pun merasa bosan berlama-lama dalam jiwa sang juara sejati karena tidak diberi kesempatan berlama-lama bersemayam di sana.

Antusiasme itu energi jiwa yang mampu membangkitkan energi fisik. Lihatlah bagaimana Umar bin Abdul Aziz yang baru terpilih sebagai khalifah kelelahan karena bekerja siang malam untuk mengembalikan harta rakyat yang dirampok para pejabat saat itu. Ia lelah, dan hendak beristirahat sejenak. Padahal sebentar lagi masuk waktu dzuhur.

Salah seorang anaknya yang masih kecil bertanya, “Ayahanda, apa yang akan ayahanda lakukan?”

“Nak, Ayahanda lelah, dan hendak istirahat sebentar saja”

“Sampai kapan ayahanda akan beristirahat?”, tanya sang anak.

“Hanya sebentar, sampai dzuhur saja kok!”, jawab Umar bin Abdul Aziz sambil tersenyum.

“Ayahanda, siapa yang menjamin ayahanda akan terus hidup sampai dzuhur, padahal ada harta rakyat yang belum dikembalikan ke Baitul Mal?”, tanya sang anak dengan polosnya.

Umar bin Abdul Aziz tersentak dengan kalimat sang bocah, matanya menatap mata sang anak, ia melihat ada antusiasme dan harapan dalam diri sang bocah. Tiba-tiba gairahnya kembali bergelora. Ruh antusiasme dalam dirinya itu ternyata mampu memberi energi kepada fisiknya yang kelelahan. Ia pun kembali bekerja menunaikan hak umat.

Sebaliknya, energi fisik pun bisa merangsang gairah dan antusiasme. Bergeraklah lebih cepat dari biasanya! Anda akan merasakan gairah dalam jiwa Anda sedikit demi sedikit tumbuh dan berkembang. Orang yang memiliki mobilitas tinggi biasanya memiliki antusiasme lebih besar dibandingkan dengan yang bergerak lamban. Bekerjalah lebih cepat! Berjalanlah lebih cepat dari biasanya! Itu bisa menstimulasi hadirnya antusiasme dalam diri Anda.

Ketika energi fisik dan energi jiwa telah bersatu, maka karya hebat merupakan sebuah keniscayaan. Bagaimana tidak, tindakan telah bernafaskan antusiasme, perpaduan antara energi jiwa dan energi fisik biasanya melahirkan prestasi fantastik dalam kehidupan.

Demikianlah karakteristik para juara sejati yang menyadari pilihan hidup: benar-benar hidup atau sekedar hidup. Dan sang juara sejati memilih untuk benar-benar hidup dengan antusiasme yang menjadi udara dalam nafas kehidupannya. Ia pun terus bergairah dan terbuai keasyikan demi keasyikan untuk terus menerus meraih kesuksesan.

Salah seorang mujahid dakwah, Ali bin Abi Thalib menyatakan, “Rekreasi terbaik adalah dengan bekerja!”. Ia telah mengeluarkan statemen tersebut sebagaimana ia telah merasakan dan membuktikannya. Itulah profil juara sejati. Ya, sang juara sejati menikmati kehidupan dengan bekerja!.

MOTIVASI EKSTRINSIK

Dalam teori Higiene-Motivator, Herzberg menyatakan bahwa ternyata yang mengarahkan perilaku kita bukan hanya motivasi intrinsik (motivasi diri/motivator), tapi juga motivasi ekstrinsik (higiene). Motivasi intrinsik berasal dari dalam diri sendiri seperti tantangan, rasa berprestasi, keyakinan, keimanan, rasa tanggung jawab, minat aktualisasi diri dan lain-lain. Sedangkan motivasi ekstrinsik bersumber dari kondisi di luar individu seperti upah, jaminan kerja, status, pergaulan, hubungan atasan dan bawahan, uang dan sebagainya.

Sang juara menyadari kedua sumber motivasi itu sekaligus memahami karakteristik masing-masing sumber motivasi. Motivasi ekstrinsik merupakan faktor yang membuat orang tidak puas dan memiliki kontinum dari ketidakpuasan rendah kepada ketidakpuasan tinggi. Artinya, pemenuhan motivasi ekstrinsik tidak akan membuat orang puas, ia hanya mampu mengeliminir ketidakpuasan. Berbeda dengan motivasi intrinsik, ia merupakan faktor yang membuat orang puas dan memiliki kontinum dari kepuasan rendah kepada kepuasan tinggi. Artinya pemenuhan kebutuhan ini akan semakin menambah kepuasan dalam hidup.

Contoh paling umum dari motivasi ekstrinsik adalah uang, bahkan penelitian di Amerika menyatakan bahwa uang merupakan motivator terbesar bangsa Amerika.

Padahal untuk apa uang digunakan?

Ia memang bisa digunakan untuk membeli kemewahan, tapi tidak bisa membeli kebahagiaan…

Ia memang bisa digunakan untuk membeli makanan, tapi tidak bisa membeli selera…

Ia memang bisa digunakan untuk membeli sertifikat, tapi tidak bisa digunakan untuk membeli kemampuan…

Ia memang bisa digunakan untuk membeli rumah, tapi ia tidak bisa digunakan untuk membeli tempat kebetahan di tempat tinggal…

Ia memang bisa digunakan untuk membeli seks, tapi tidak bisa digunakan untuk membeli cinta dan kasih sayang…

Ia memang bisa digunakan untuk membeli ranjang, tapi ia tidak bisa digunakan untuk membeli kenikmatan tidur...

Berapapun uang yang didapat tidak akan mencapai kepuasan, ia hanya mengeliminir ketidakpuasan…

Memang ada orang yang menjadi juara karena memiliki motivasi ekstrinsik. Ia menjadi juara karena mengharapkan hadiah, medali, bonus dan sebagainya. Namun, apakah Ia mendapatkan hakikat sebuah kemenangan? Apakah Ia merasakan kepuasan sejati? Dan apakah Ia memiliki daya tahan dan energi untuk senantiasa bangkit jika suatu saat dia mengalami kegagalan. Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan hal yang sulit dijawab oleh pemilik motivasi ekstrinsik an sich.

Berbeda dengan Sang Juara Sejati. Ia lebih bertumpu pada motivasi instrinsiknya. Ia mengetahui bahwa kepuasan hanya dapat diraih apabila proses mencapai kesuksesannya bertumpu pada kemampuannya memotivasi diri sendiri. Karena itulah, dia senantiasa menjadi juara karena meyakini bahwa kemenangan sejati bukanlah memenangkan setiap pertandingan, tetapi kemampuan merevitalisasi motivasinya dari setiap kegagalan. Karena itu pula lah, sang juara sejati senantiasa memiliki cadangan motivasi yang tak habis-habis digunakan untuk senantiasa menjadi juara. Dengannya, kepuasan dan kemenangan menjadi bagian yang tak pernah terpisah dari dirinya.

Meskipun demikian, Sang juara tidak mengabaikan motivasi ekstrinsiknya karena itu merupakan fitrah manusia. Ia mentoleransi motivasi ekstrinsiknya dalam batas kewajaran. Memang Ia lebih memilih untuk mempertahankan dan menumbuhkembangkan motivasi dirinya (intrinsik). Ia tahu, dengan motivasi dirilah ia menemukan kepuasan dan kebermaknaan hidup. Tapi Ia juga tidak membunuh motivasi ekstrinsiknya karena ia tetap dibutuhkan sebagai pelengkap kepuasan dan kebermaknaan hidupnya.

Sayangnya, realitas menunjukkan banyak orang kesulitan merealisasikannya. Hal ini memang membutuhkan pengenalan mendalam atas diri kita, terutama motif-motif yang mengarahkan perilaku kita, selain dibutuhkan pelatihan diri secara kontinyu.

Namun, bagi sang juara sejati, kesulitan realisasi ini ditanggapi dengan senyuman dan ungkapan, “That is difficult, but possible!”. Sementara sang pecundang hanya bisa menatap nanar kesuksesan, dan berkata, “That is possible, but difficult!”

MOTIVASI DIRI

Di antara bentuk keterampilan jiwa sang juara sejati adalah menyadari sumber motivasi yang sangat kuat serta menjadi modal utama baginya dalam mencipta keajaiban. Motivasi internal/intrinsik, demikian para pakar motivasi menamai jenis motivasi yang relatif permanen ini. Sebagian lain menamainya dengan motivasi diri (self motivation).

Motivasi diri merupakan energi dari dalam diri sang juara yang mengarahkan tingkah lakunya. Ia hadir dengan didasari kesadaran yang menyeluruh atas eksistensi diri dan tujuan hidup untuk menjadi manusia yang bermakna lebih dari adanya. Para komikus menamai manusia yang bermakna lebih dari adanya ini dengan istilah “Superman”, Nietzsche menyebutnya “Uebermensch” (manusia unggul), para ulama menyebutnya “Insan Kamil” (manusia sempurna), dan Saya ingin menyebutnya “Sang Juara”.

Motivasi jenis ini relatif permanen dan kuat karena sumbernya dari dalam diri: ‘Aku’-lah penentunya, dan ‘Aku’-lah pelakunya, maka motivasi ini menjadi bagian inheren dalam diri ‘Aku’ sehinggat teramat sulit untuk dilepaskan. Ia terus bertumbuh dan berkembang dalam ‘Aku’. Ia pun tak pernah henti untuk memicu dan memacu ‘Aku’ untuk senantiasa menoreh sejarah kesuksesan sang juara sejati.

Motivasi diri memiliki dua bagian: mental dan fisik. Secara mental, sang juara mengimajinasikan kemana dia ingin pergi. Dan secara fisik, sang juara mengambil tindakan untuk menuju ke sana. Pikiran dan tindakan memiliki tingkat urgensitas yang sama bagi Sang juara sejati dalam membangun kesuksesan hidupnya.

Orang yang termotivasi oleh dirinya sendiri menyertai kata benda dengan kata kerja: ia menentukan sasaran-sasarannya (kata benda) dan bertindak mencapainya (kata kerja). Demikian memo motivasional bagi Sang juara sejati.

Bertanyalah kepada Sang juara sejati! Niscaya dia memiliki kejelasan sasaran-sasaran yang ingin dicapai dan senantiasa dalam keadaan bertindak untuk mencapai keberhasilannya. Tidak lama setelah dia mencapai sasarannya, ia akan menetapkan sasaran-sasaran yang lebih tinggi guna meningkatkan kesuksesan yang dia capai(QS94:7).

“Motivasi diri merupakan suatu kunci menuju kesuksesan. Saya menyebutnya ‘The Miracle of Motivation’ (keajaiban motivasi)!” Demikian George Shinn menjelaskan hubungan antara motivasi diri dengan kesuksesan. Dia juga menjelaskan hubungannya dengan iman: “Saya yakin bahwa iman adalah pemotivasi utama manusia….!”.

Hal ini senada dengan sabda Rasulullah 15 abad yang lalu, “Al Imanu yashna’ul khawariq!” (Keimanan itu senantiasa melahirkan keajaiban-keajaiban fantastis). Sejarah telah membuktikan para pemilik keimanan mampu melakukan hal-hal yang kalaulah sejarawan tidak mengabadikannya, niscaya kita tidak akan pernah percaya bahwa dunia ini pernah dihuni oleh orang-orang dengan prestasi sehebat itu.

Ternyata, rahim motivasi paling subur yang senantiasa mampu melahirkan keajaiban-keajaiban tersebut bernama keimanan!

MOTIVASI

Keajaiban adalah kata yang tak hanya berada dalam cita sang juara sejati, tapi sebuah kenyataan yang mampu mereka ciptakan dalam sejarah kemanusiaan. Keberhasilan mengagumkan, kesuksesan fantastik, prestasi monumental serta karya-karya besar yang menyejarah menjadi bukti bahwa mereka tak hanya menunggu keajaiban, namun mereka menciptakan keajaiban-keajaiban tersebut.

Apa rahasia utama yang membantu Sang Juara dalam mencapai keberhasilan, mengatasi masalah, mencapai sasaran-sasaran dan mencipta keajaiban?. “Motivasi adalah kunci untuk mendapatkan kehidupan yang berhasil!”, Demikian kata George Shinn yang juga telah membuktikan kata-katanya dengan menjadi orang termuda (dalam usia tiga puluh empat tahun) memenangkan penghargaan Horatio Alger yang sangat didambakan banyak orang. Kini ia seorang milyarder atas usaha sendiri dan memiliki sekitar tiga puluh perusahaan diberbagai bidang usaha.

Reza “Supertrainer” Syarief menyatakan, “Motivasi memang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya ditentukan oleh motivasi!”. Tak sekedar kata, diapun telah membuktikannya dengan berbagai kesuksesan menjadi seorang pilot, sales manager kelas dunia, trainer ulung, da’i kharismatik dan sebagainya.

Perhatikan dan dekatilah para juara sejati yang sukses di sekeliling Anda! Niscaya Anda merasakan aura motivasi yang besar, kemauan yang menggelora dan semangat yang senantiasa bertalu-talu dalam dada mereka. Semua itu menjadikan Sang Juara memiliki daya tahan mengagumkan untuk senantiasa konsisten, persisten dan resisten dalam perjuangan di tengah tekanan, ancaman, tribulasi serta kondisi kritis sekalipun.

Motivasi menjadi energi pendorong yang mengarahkan tingkah laku seseorang. Tanpa motivasi, seseorang tak kan mampu bergerak, bahkan sekedar mengangkat selembar kertas. Namun, dengan motivasi, seseorang mampu memindah gunung, menembus langit, membelah bumi dan mengubah arah peradaban manusia. Tingkat keberhasilan dalam mencapai semua itu berbanding lurus dengan kualitas serta kuantitas motivasi dalam ruang jiwanya.

Membangun, memelihara serta menumbuhkembangkan motivasi merupakan keterampilan jiwa sang juara sejati. Ia memahami betul kondisi motivasi dan reaksi-reaksi kejiwaan yang berkaitan dengannya. Keterampilan jiwa inilah yang menjadikannya tidak hanya layak dianugerahi keajaiban, tapi juga mampu menciptakan keajaiban demi keajaiban dalam kehidupannya.

Jika Anda telah memahami urgensi motivasi dan siap menumbuhkembangkannya, berarti Anda telah memutuskan untuk menjadi seorang juara sejati pencipta keajaiban.

Selamat bergabung dengan kafilah para juara sejati!

SANG JUARA

Tahukah Anda bahwa Anda dilahirkan karena Anda seorang juara?. Bagaimana tidak, sedangkan Anda adalah satu di antara 200.000.000 calon manusia yang berlomba-lomba dalam sebuah ruangan sempit dan melawan arus serta jarak yang jauh untuk mencapai ovum. Bagaikan 200.000.000 manusia mencebur ke muara Bengawan Solo untuk berlomba mencapai hulu sungai. Dalam kompetisi yang dahsyat tersebut, andalah Sang Juara, dan karena itulah Anda lahir.

Demikianlah Allah mengajarkan bahwa prosesi pembentukan manusia sudah dimulai melalui kompetisi. Demikian pula aksioma kehidupan memberitahu jati dirinya, bahwa ia adalah medan pertarungan yang penuh kompetisi dan yang layak tampil hanyalah para pemilik mental juara. Adapun Sang Pecundang, hanya layak mengisi keranjang sampah sejarah.

Kompetisi adalah keniscayaan sejarah yang karenanya lahir sang juara dan sang pecundang. Itulah pilihannya. Namun, ada pertanyaan kehidupan yang mendasar, mungkinkah menjadi orang yang senantiasa menang dan tak pernah terkalahkan? Jika ya, siapakah sang juara tersebut?.

Jawabannya: sangat mungkin!, dan orangnya adalah orang yang membuat Rasulullah terpesona dengan sabdanya: “Fantastis sekali kehidupan seorang mukmin, semua momentum baik baginya. Jika mendapatkan kebaikan dia bersyukur, dan itu baik baginya. Dan jika mendapatkan musibah, dia bersabar, dan itu baik baginya”.

Ya, Sang Juara itu bernama mukmin. Ia senantiasa juara bukan karena senantiasa dapat mengalahkan lawannya, namun karena memahami hakikat dan filosofi kemenangan sejati serta senantiasa berada di dalamnya. Ia memahami bahwa kemenangan sejati adalah ketika setiap momentum memiliki makna dalam kehidupannya. Mungkin saja dia gagal, tapi dia senantiasa mampu bangkit dari setiap kegagalan. Itulah penyebab dia senantiasa menang melawan tantangan-tantangan kehidupan.

Senantiasa ada efek positif yang dirasakan oleh sang juara dalam setiap jenak-jenak kehidupannya karena dia memiliki kebiasaan produktif: diamnya adalah pikir (shamtuhu fikrun), bicaranya adalah dzikir (kalamuhu dzikrun) dan pandangannya ibrah (nadzaruhu ‘ibrah).

Senjata pertama dan utama Sang Juara bernama sabar dan syukur. Sabar merupakan mekanisme pertahanan jiwa yang tidak ada batasnya, hanya saja ia bisa berubah bentuk dalam berbagai derivasinya: dari keridhaan hati, kelembutan lisan, penghindaran konflik sampai jihad fi sabilillah, dari sikap defensif sampai ofensif. Bukankah para petarung sejati senantiasa mengatakan, “bertahan yang paling tangguh adalah dengan menyerang?”.

Syukur merupakan maksimalisasi dan optimalisasi pendayagunaan nikmat untuk menstimulasi hadirnya nikmat yang berlipat ganda. Sedangkan nikmat Allah itu beraneka ragam: potensi, energi, waktu dan sebagainya. Sang juara mengenali betul nikmat tersebut dan mampu memanfaatkannya secara efektif dan efisien dalam setiap sisi kehidupannya.

Jika syukur dan sabar telah menjadi jurus andalan. Anda telah memastikan diri untuk bersama kafilah para juara sejati. Setelah itu, bersiaplah untuk menggetarkan dunia, menggoda kemenangan dan mempesonakan sejarah sebagaimana para juara sejati terdahulu melakukannya. Siapkah?.

Tuesday, October 23, 2007

PERNIKAHANKU....




Alhamdulillah akad pernikahan Indra Kusumah dengan Efri Widianti pada tanggal 21 Oktober 2007 di Nganjuk, Jatim, berjalan lancar....

Terima kasih atas doa restu dari sahabat-sahabat...

Doakan kami supaya menjadi keluarga sakinah dengan mawaddah dan rahmah sampai kami berkumpul kembali di syurga firdaus-Nya...

Friday, August 17, 2007

JADI MAHASISWA BARU LAGI....:)

Sekarang Saya mendapatkan gelar kembali sebagai mahasiswa baru angkatan 2007. Alhamdulillah Saya lulus seleksi Pascasarjana Universitas Indonesia, tepatnya di Program Studi Pengkajian Ketahanan Nasional, Konsentrasi Kajian Stratejik Pengembangan Kepemimpinan. Program magister ini merupakan kerja sama Universitas Indonesia dengan Kementerian Negara Pemuda dan Olahraga.

Mohon doanya dari sahabat-sahabat semoga dilancarkan oleh Allah SWT.....

BUKU "PANDUAN DIET ALA RASULULLAH"

Sahabat... maaf, karena satu dan lain hal, buku "Risalah Pergerakan Mahasiswa" menurut penerbitnya kemungkinan baru terbit akhir Agustus. Tapi insya Allah sudah ada buku Saya yang beredar di pasaran (bisa didapatkan di TB Gramedia) berjudul "Panduan Diet Ala Rasulullah", dengan kata pengantar Prof. Dr. H. A. Himendra Wargahadibrata, dr., SpAN., KIC., KNA, (Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Rektor UNPAD 1998-2007).

Berikut ini adalah komentar tentang buku tersebut:


Subhanallah...! Buku ini merupakan paduan integral antara ilmu pengetahuan dan agama. Istimewanya buku ini disajikan dengan penyajian sederhana sehingga mudah dipahami oleh masyarakat pada umumnya.” (dr. Hendi Anshori, Praktisi kesehatan)

“Buku ini adalah buku yang sangat bermanfaat untuk dibaca dan dilaksanakan. Penggabungan unsur syar’iyyah (keteladanan diet ala Rasulullah saw) dengan unsur ilmiyyah (pembuktian secara kesehatan akan kebenarannya) ditata apik dan menarik. Selamat kepada penulis yang mampu menggali unsur ini. Semoga buku Diet Ala Rasulullah ini dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.” (Efri Mardawati, STP., MT., Dosen jurusan Teknologi Industri Pangan Fakultas Teknologi Industri Pertanian Universitas Padjadjaran)

“Buku wajib bagi yang ingin sehat secara utuh (sejahtera jasmani, rohani, sosial, dan ekonomi)” (NCA Helmy Ardian, S.Si. Network Builder dan trainer GRAK System)

“Dua aset dasar setiap manusia untuk sukses adalah sehat dan waktu luang. Kali ini sahabat saya memaparkan aset yang pertama (kesehatan) dengan bahasa dan penjelasan yang gurih membuat badan dan otak segar dalam mencernanya.” (Irfan Aulia, S.Psi., Wirausahawan muda dan mahasiswa Magister Psikologi Universitas Padjadjaran)

Kalau mau lebih jelas, beli saja bukunya. OK? SBY-JK (Syukran Banget Yach - Jazakumullah Khair)

Sumber: http://www.qultummedia.com/segera_terbit/page_2.html