Tuesday, December 04, 2007

SERUAN TRANSFORMASI KEBANGKITAN

Kepada para mahasiswa Indonesia....

Kepada jiwa-jiwa muda yang telah saling berjanji untuk berjuang di jalan ini...

Kepada para aktifis.....

Tragedi demi tragedi kemanusiaan yang memilukan menghiasi hari-hari kita. Bukan hanya Indonesia, bahkan dunia. Hegemoni neo-imperialis, neoliberalis dan kapitalisme global mencengkeram kuat masa depan peradaban kita. Kita sudah sepakat untuk tidak diam tergagu. Tiada Jalan lain kecuali satu kata: LAWAN!

Kita telah, sedang, dan akan terus menapaktilasi jalan panjang perubahan yang merupakan kata kunci kebangkitan. Kesiapan untuk konsisten, persisten dan resisten di jalan ini dibangun atas kesadaran karakter perjuangan yang penuh beban berat (tsiqalul a’ba), banyak hambatan (katsrotul ‘aqabat), sedikit pengikut (qillatus salikin) dan perjalanan yang panjang (thulu thariq).

Lama memang. Tapi ia merupakan sebuah keniscayaan yang bisa dipercepat dan sebuah kepastian yang bisa dipersingkat, karena ia adalah megaproyek kebangkitan evolusioner akseleratif.

Kita memang bukan yang pertama melewati jalan ini. Sebelumnya telah berlalu para pahlawan keagungan, pejuang keadilan dan petarung kebenaran (semoga rahmat dan kasih sayang-Nya senantiasa dicurahkan kepada mereka). Napak tilas yang kita lakukan adalah melanjutkan estafeta perjuangan para pendahulu untuk menyelesaikan megaproyek kebangkitan bangsa ini.

Maka, tiada jalan lain bagi kita kecuali terus membangun dan memperkokoh 7 (tujuh) pilar transformasi kebangkitan sebuah bangsa, yakni:

 Ketergugahan Spiritual (Al Yaqdzah Ar Ruhiyyah)
Kita telah, sedang dan akan terus memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta (Quwatush shillah billah) sehingga kita memiliki keterarahan spiritual. Energi keterarahan spiritual ini yang akan kita arahkan untuk mengarahkan spiritualitas bangsa sehingga masyarakat ini mengalami ketergugahan spiritual secara masif.

 Keterbangkitan Pemikiran (Ash Shohwah Al Fikriyyah)
Kita telah, sedang dan akan terus membuka pemikiran kita kepada kebenaran hikmah dan ilmu sehingga merasakan ketersadaran pemikiran. Energi kegundahan dan kegelisahan yang lahir dari ketersadaran pemikiran akan kita gunakan untuk menggedor struktur kesadaran bangsa ini sehingga mereka sadar akan hak dan kewajiban mereka dan memperjuangkan kemulian harga diri mereka.

 Penguasaan Pemahaman Teori (Al Ihathoh An Nadzariyyah)
Kita telah, sedang dan akan terus membiasakan diri dalam pertarungan ide, pergumulan gagasan dan perkelahian wacana sehingga kita mampu membuktikan keunggulan manhaj rabbani, dan memformulasikan teori-teori serta rumus-rumus solutif atas berbagai permasalah masyarakat kontemporer. Teori dan rumus alternatif solutif yang berasal dari Sang Pencipta ini akan menuntun kita sehingga perjuangan kita dibangun di atas basis rasionalitas yang kuat dan konsep yang tangguh. Sehingga seluruh dunia mengakui dan merasakan bahwa generasi baru ini adalah solusi.

 Pengetahuan Medan (Al Ma’rifah Al Maidaniyyah)
Kita telah, sedang dan akan terus terjun langsung berinteraksi dan berpartisipasi dengan masyarakat kita dalam membangun kemuliaannya sehingga kita mengenal betul seluk beluk permasalahan mereka. Kita tidak akan pernah membuat benteng dengan mereka apalagi menjadi musuh mereka. Kita mencintai mereka jauh melebihi cinta kepada diri kita dan kita pun bangga seandainya jiwa kita harus menjadi tumbal atas kejayaan umat ini.

 Sistematika Strategi (Abjadiatul Khutuwat)
Kita telah, sedang dan akan terus melaksanakan langkah-langkah perjuangan yang sistematis dan konseptual dalam melakukan mobilitas vertikal (At ta’biah al ‘amudiyyah) dan mobilitas horizontal (At ta’bi’ah al afaqiyyah) demi tegaknya kebenaran dan keadilan. Abjadiat perjuangan akan menghindarkan kita dari perjuangan yang tambal sulam, tergesa-gesa dan serabutan.

 Soliditas Struktural (Al Matanah At Tandzimiyyah)
Kita telah, sedang dan akan terus membangun struktur pergerakan yang tangguh, kokoh dan solid dalam aspek aktifitas dan personilnya. Pergerakan yang tak mudah dipecah belah, diadu domba dan disusupi para pengkhianat.

 Kebangkitan Pergerakan (An Nahdloh Al Harokiyyah)
Kita telah, sedang dan akan terus bergerak menjadi garda inti yang menggerakan bangsa ini. Tatkala bangsa ini telah bergerak dengan terarah dan sinergis, maka detik demi detik hanya akan menjadi saksi semakin mendekatnya kejayaan.

Saatnya nanti, gelombang kebangkitan generasi baru kan bergemuruh di seluruh dunia. Akselerasi pergerakan yang semakin masif pun menjadi realitas tak terbendung. Keadilan akan kembali menampakkan jati dirinya yang mulia dan daya ekspansinya yang memukau.

Realitas hari ini memang masih memiliki jarak yang sangat jauh dengan idealita. Tugas kita lah untuk menikahkan idealita dengan realitas. Sehingga tidak ada jarak antara keduanya.

Itulah pekerjaan kita.

Bukan begitu, wahai Indonesia muda?


Marilah kawan mari kita kabarkan
Di tangan kita tergenggam arah bangsa
Marilah kawan mari kita nyanyikan
Sebuah lagu tentang pembebasan

Monday, December 03, 2007

AKU KAN MENJADI AYAH...!!!

Saya pernah membuat tulisan berjudul "Surat untuk Calon Anakku". Tulisan itu Saya publish di blog ini dan mengundang komentar yang cukup banyak. Ada kawan yang mengcopy dan menampilkan juga di blog pribadinya.

Surat tersebut tidak hanya sebuah tulisan, tapi lebih jauh dari itu. Ia adalah doa dan harapan kepada Allah.

Kini, tampaknya doa tersebut dikabulkan Allah... Hari sabtu kemarin Saya mengantar istri ke Rumah Sakit Al Islam... Istri Saya mulai mengandung....

Aku akan menjadi Ayah....!!!!

Alhamdulillah ya Rabbana....

Mohon doa restu juga dari sahabat semua....

ANTUSIASME

Mari lebih dekat dengan sang juara sejati. Anda akan merasakan aura antusiasme di sekelilingnya. Ada gairah kerja yang luar biasa dalam dirinya. Sang juara menyadari bahwa gairah adalah udara kehidupan. Maka iapun senantiasa hidup dan senantiasa mampu merevitalisasi motivasinya dengan antusias dan gairah hidup yang menggelora.

Tanpa gairah, kehidupan akan mati. Bahkan itulah kematian yang sebenarnya. Dan itu tanda bahwa tidak ada tuhan dalam jiwa kita. Antusiasme berasal dari kata “en” dan “theos” yang artinya “Tuhan di dalam”. Ketidakgairahan kerja dan ketidakhadiran antusiasme dalam diri kita merupakan indikator lemahnya kehadiran Tuhan dalam diri, maka ia akan kehilangan masa depan. Sedangkan sang juara senantiasa memiliki antusiasme karena ada Tuhan dalam hatinya.

Lihatlah Thomas Alfa Edison yang senantiasa bergairah melakukan penelitian demi penemuan-penemuan besar dalam dunia ilmu pengetahuan. Teman-temannya merasa heran dengan daya tahan Thomas Alfa Edison yang mampu terus bekerja dengan antusias dalam waktu lama. Ketika ditanya apa rahasianya, Edison hanya tersenyum dan balik bertanya, “Bekerja? Siapa bilang Saya bekerja? Saya tak pernah bekerja seharipun dalam hidupku. Semua yang kulakukan adalah keasyikan demi keasyikan!”.

“Helmi Yahya itu tidak perlu beristirahat, karena istirahatnya dengan bekerja”. Demikian ungkapan Baban Sarbana, Direktur ILNA Learning Centre, ketika menceritakan Helmi Yahya, Presenter Kuis Siapa Berani, yang senantiasa memiliki gairah kerja yang kontinyu serta ide-ide kreatif yang seolah tak pernah habis.

Sang juara sejati tidak memberikan peluang kepada kebosanan untuk tumbuh dan berkembang. Memang secara fitrah ia terkadang terhinggapi kebosanan, namun ia memiliki keterampilan jiwa untuk mengisolasi sang bosan sehingga tidak menular. Maka sang bosan pun merasa bosan berlama-lama dalam jiwa sang juara sejati karena tidak diberi kesempatan berlama-lama bersemayam di sana.

Antusiasme itu energi jiwa yang mampu membangkitkan energi fisik. Lihatlah bagaimana Umar bin Abdul Aziz yang baru terpilih sebagai khalifah kelelahan karena bekerja siang malam untuk mengembalikan harta rakyat yang dirampok para pejabat saat itu. Ia lelah, dan hendak beristirahat sejenak. Padahal sebentar lagi masuk waktu dzuhur.

Salah seorang anaknya yang masih kecil bertanya, “Ayahanda, apa yang akan ayahanda lakukan?”

“Nak, Ayahanda lelah, dan hendak istirahat sebentar saja”

“Sampai kapan ayahanda akan beristirahat?”, tanya sang anak.

“Hanya sebentar, sampai dzuhur saja kok!”, jawab Umar bin Abdul Aziz sambil tersenyum.

“Ayahanda, siapa yang menjamin ayahanda akan terus hidup sampai dzuhur, padahal ada harta rakyat yang belum dikembalikan ke Baitul Mal?”, tanya sang anak dengan polosnya.

Umar bin Abdul Aziz tersentak dengan kalimat sang bocah, matanya menatap mata sang anak, ia melihat ada antusiasme dan harapan dalam diri sang bocah. Tiba-tiba gairahnya kembali bergelora. Ruh antusiasme dalam dirinya itu ternyata mampu memberi energi kepada fisiknya yang kelelahan. Ia pun kembali bekerja menunaikan hak umat.

Sebaliknya, energi fisik pun bisa merangsang gairah dan antusiasme. Bergeraklah lebih cepat dari biasanya! Anda akan merasakan gairah dalam jiwa Anda sedikit demi sedikit tumbuh dan berkembang. Orang yang memiliki mobilitas tinggi biasanya memiliki antusiasme lebih besar dibandingkan dengan yang bergerak lamban. Bekerjalah lebih cepat! Berjalanlah lebih cepat dari biasanya! Itu bisa menstimulasi hadirnya antusiasme dalam diri Anda.

Ketika energi fisik dan energi jiwa telah bersatu, maka karya hebat merupakan sebuah keniscayaan. Bagaimana tidak, tindakan telah bernafaskan antusiasme, perpaduan antara energi jiwa dan energi fisik biasanya melahirkan prestasi fantastik dalam kehidupan.

Demikianlah karakteristik para juara sejati yang menyadari pilihan hidup: benar-benar hidup atau sekedar hidup. Dan sang juara sejati memilih untuk benar-benar hidup dengan antusiasme yang menjadi udara dalam nafas kehidupannya. Ia pun terus bergairah dan terbuai keasyikan demi keasyikan untuk terus menerus meraih kesuksesan.

Salah seorang mujahid dakwah, Ali bin Abi Thalib menyatakan, “Rekreasi terbaik adalah dengan bekerja!”. Ia telah mengeluarkan statemen tersebut sebagaimana ia telah merasakan dan membuktikannya. Itulah profil juara sejati. Ya, sang juara sejati menikmati kehidupan dengan bekerja!.

MOTIVASI EKSTRINSIK

Dalam teori Higiene-Motivator, Herzberg menyatakan bahwa ternyata yang mengarahkan perilaku kita bukan hanya motivasi intrinsik (motivasi diri/motivator), tapi juga motivasi ekstrinsik (higiene). Motivasi intrinsik berasal dari dalam diri sendiri seperti tantangan, rasa berprestasi, keyakinan, keimanan, rasa tanggung jawab, minat aktualisasi diri dan lain-lain. Sedangkan motivasi ekstrinsik bersumber dari kondisi di luar individu seperti upah, jaminan kerja, status, pergaulan, hubungan atasan dan bawahan, uang dan sebagainya.

Sang juara menyadari kedua sumber motivasi itu sekaligus memahami karakteristik masing-masing sumber motivasi. Motivasi ekstrinsik merupakan faktor yang membuat orang tidak puas dan memiliki kontinum dari ketidakpuasan rendah kepada ketidakpuasan tinggi. Artinya, pemenuhan motivasi ekstrinsik tidak akan membuat orang puas, ia hanya mampu mengeliminir ketidakpuasan. Berbeda dengan motivasi intrinsik, ia merupakan faktor yang membuat orang puas dan memiliki kontinum dari kepuasan rendah kepada kepuasan tinggi. Artinya pemenuhan kebutuhan ini akan semakin menambah kepuasan dalam hidup.

Contoh paling umum dari motivasi ekstrinsik adalah uang, bahkan penelitian di Amerika menyatakan bahwa uang merupakan motivator terbesar bangsa Amerika.

Padahal untuk apa uang digunakan?

Ia memang bisa digunakan untuk membeli kemewahan, tapi tidak bisa membeli kebahagiaan…

Ia memang bisa digunakan untuk membeli makanan, tapi tidak bisa membeli selera…

Ia memang bisa digunakan untuk membeli sertifikat, tapi tidak bisa digunakan untuk membeli kemampuan…

Ia memang bisa digunakan untuk membeli rumah, tapi ia tidak bisa digunakan untuk membeli tempat kebetahan di tempat tinggal…

Ia memang bisa digunakan untuk membeli seks, tapi tidak bisa digunakan untuk membeli cinta dan kasih sayang…

Ia memang bisa digunakan untuk membeli ranjang, tapi ia tidak bisa digunakan untuk membeli kenikmatan tidur...

Berapapun uang yang didapat tidak akan mencapai kepuasan, ia hanya mengeliminir ketidakpuasan…

Memang ada orang yang menjadi juara karena memiliki motivasi ekstrinsik. Ia menjadi juara karena mengharapkan hadiah, medali, bonus dan sebagainya. Namun, apakah Ia mendapatkan hakikat sebuah kemenangan? Apakah Ia merasakan kepuasan sejati? Dan apakah Ia memiliki daya tahan dan energi untuk senantiasa bangkit jika suatu saat dia mengalami kegagalan. Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan hal yang sulit dijawab oleh pemilik motivasi ekstrinsik an sich.

Berbeda dengan Sang Juara Sejati. Ia lebih bertumpu pada motivasi instrinsiknya. Ia mengetahui bahwa kepuasan hanya dapat diraih apabila proses mencapai kesuksesannya bertumpu pada kemampuannya memotivasi diri sendiri. Karena itulah, dia senantiasa menjadi juara karena meyakini bahwa kemenangan sejati bukanlah memenangkan setiap pertandingan, tetapi kemampuan merevitalisasi motivasinya dari setiap kegagalan. Karena itu pula lah, sang juara sejati senantiasa memiliki cadangan motivasi yang tak habis-habis digunakan untuk senantiasa menjadi juara. Dengannya, kepuasan dan kemenangan menjadi bagian yang tak pernah terpisah dari dirinya.

Meskipun demikian, Sang juara tidak mengabaikan motivasi ekstrinsiknya karena itu merupakan fitrah manusia. Ia mentoleransi motivasi ekstrinsiknya dalam batas kewajaran. Memang Ia lebih memilih untuk mempertahankan dan menumbuhkembangkan motivasi dirinya (intrinsik). Ia tahu, dengan motivasi dirilah ia menemukan kepuasan dan kebermaknaan hidup. Tapi Ia juga tidak membunuh motivasi ekstrinsiknya karena ia tetap dibutuhkan sebagai pelengkap kepuasan dan kebermaknaan hidupnya.

Sayangnya, realitas menunjukkan banyak orang kesulitan merealisasikannya. Hal ini memang membutuhkan pengenalan mendalam atas diri kita, terutama motif-motif yang mengarahkan perilaku kita, selain dibutuhkan pelatihan diri secara kontinyu.

Namun, bagi sang juara sejati, kesulitan realisasi ini ditanggapi dengan senyuman dan ungkapan, “That is difficult, but possible!”. Sementara sang pecundang hanya bisa menatap nanar kesuksesan, dan berkata, “That is possible, but difficult!”

MOTIVASI DIRI

Di antara bentuk keterampilan jiwa sang juara sejati adalah menyadari sumber motivasi yang sangat kuat serta menjadi modal utama baginya dalam mencipta keajaiban. Motivasi internal/intrinsik, demikian para pakar motivasi menamai jenis motivasi yang relatif permanen ini. Sebagian lain menamainya dengan motivasi diri (self motivation).

Motivasi diri merupakan energi dari dalam diri sang juara yang mengarahkan tingkah lakunya. Ia hadir dengan didasari kesadaran yang menyeluruh atas eksistensi diri dan tujuan hidup untuk menjadi manusia yang bermakna lebih dari adanya. Para komikus menamai manusia yang bermakna lebih dari adanya ini dengan istilah “Superman”, Nietzsche menyebutnya “Uebermensch” (manusia unggul), para ulama menyebutnya “Insan Kamil” (manusia sempurna), dan Saya ingin menyebutnya “Sang Juara”.

Motivasi jenis ini relatif permanen dan kuat karena sumbernya dari dalam diri: ‘Aku’-lah penentunya, dan ‘Aku’-lah pelakunya, maka motivasi ini menjadi bagian inheren dalam diri ‘Aku’ sehinggat teramat sulit untuk dilepaskan. Ia terus bertumbuh dan berkembang dalam ‘Aku’. Ia pun tak pernah henti untuk memicu dan memacu ‘Aku’ untuk senantiasa menoreh sejarah kesuksesan sang juara sejati.

Motivasi diri memiliki dua bagian: mental dan fisik. Secara mental, sang juara mengimajinasikan kemana dia ingin pergi. Dan secara fisik, sang juara mengambil tindakan untuk menuju ke sana. Pikiran dan tindakan memiliki tingkat urgensitas yang sama bagi Sang juara sejati dalam membangun kesuksesan hidupnya.

Orang yang termotivasi oleh dirinya sendiri menyertai kata benda dengan kata kerja: ia menentukan sasaran-sasarannya (kata benda) dan bertindak mencapainya (kata kerja). Demikian memo motivasional bagi Sang juara sejati.

Bertanyalah kepada Sang juara sejati! Niscaya dia memiliki kejelasan sasaran-sasaran yang ingin dicapai dan senantiasa dalam keadaan bertindak untuk mencapai keberhasilannya. Tidak lama setelah dia mencapai sasarannya, ia akan menetapkan sasaran-sasaran yang lebih tinggi guna meningkatkan kesuksesan yang dia capai(QS94:7).

“Motivasi diri merupakan suatu kunci menuju kesuksesan. Saya menyebutnya ‘The Miracle of Motivation’ (keajaiban motivasi)!” Demikian George Shinn menjelaskan hubungan antara motivasi diri dengan kesuksesan. Dia juga menjelaskan hubungannya dengan iman: “Saya yakin bahwa iman adalah pemotivasi utama manusia….!”.

Hal ini senada dengan sabda Rasulullah 15 abad yang lalu, “Al Imanu yashna’ul khawariq!” (Keimanan itu senantiasa melahirkan keajaiban-keajaiban fantastis). Sejarah telah membuktikan para pemilik keimanan mampu melakukan hal-hal yang kalaulah sejarawan tidak mengabadikannya, niscaya kita tidak akan pernah percaya bahwa dunia ini pernah dihuni oleh orang-orang dengan prestasi sehebat itu.

Ternyata, rahim motivasi paling subur yang senantiasa mampu melahirkan keajaiban-keajaiban tersebut bernama keimanan!

MOTIVASI

Keajaiban adalah kata yang tak hanya berada dalam cita sang juara sejati, tapi sebuah kenyataan yang mampu mereka ciptakan dalam sejarah kemanusiaan. Keberhasilan mengagumkan, kesuksesan fantastik, prestasi monumental serta karya-karya besar yang menyejarah menjadi bukti bahwa mereka tak hanya menunggu keajaiban, namun mereka menciptakan keajaiban-keajaiban tersebut.

Apa rahasia utama yang membantu Sang Juara dalam mencapai keberhasilan, mengatasi masalah, mencapai sasaran-sasaran dan mencipta keajaiban?. “Motivasi adalah kunci untuk mendapatkan kehidupan yang berhasil!”, Demikian kata George Shinn yang juga telah membuktikan kata-katanya dengan menjadi orang termuda (dalam usia tiga puluh empat tahun) memenangkan penghargaan Horatio Alger yang sangat didambakan banyak orang. Kini ia seorang milyarder atas usaha sendiri dan memiliki sekitar tiga puluh perusahaan diberbagai bidang usaha.

Reza “Supertrainer” Syarief menyatakan, “Motivasi memang bukan segala-galanya, tapi segala-galanya ditentukan oleh motivasi!”. Tak sekedar kata, diapun telah membuktikannya dengan berbagai kesuksesan menjadi seorang pilot, sales manager kelas dunia, trainer ulung, da’i kharismatik dan sebagainya.

Perhatikan dan dekatilah para juara sejati yang sukses di sekeliling Anda! Niscaya Anda merasakan aura motivasi yang besar, kemauan yang menggelora dan semangat yang senantiasa bertalu-talu dalam dada mereka. Semua itu menjadikan Sang Juara memiliki daya tahan mengagumkan untuk senantiasa konsisten, persisten dan resisten dalam perjuangan di tengah tekanan, ancaman, tribulasi serta kondisi kritis sekalipun.

Motivasi menjadi energi pendorong yang mengarahkan tingkah laku seseorang. Tanpa motivasi, seseorang tak kan mampu bergerak, bahkan sekedar mengangkat selembar kertas. Namun, dengan motivasi, seseorang mampu memindah gunung, menembus langit, membelah bumi dan mengubah arah peradaban manusia. Tingkat keberhasilan dalam mencapai semua itu berbanding lurus dengan kualitas serta kuantitas motivasi dalam ruang jiwanya.

Membangun, memelihara serta menumbuhkembangkan motivasi merupakan keterampilan jiwa sang juara sejati. Ia memahami betul kondisi motivasi dan reaksi-reaksi kejiwaan yang berkaitan dengannya. Keterampilan jiwa inilah yang menjadikannya tidak hanya layak dianugerahi keajaiban, tapi juga mampu menciptakan keajaiban demi keajaiban dalam kehidupannya.

Jika Anda telah memahami urgensi motivasi dan siap menumbuhkembangkannya, berarti Anda telah memutuskan untuk menjadi seorang juara sejati pencipta keajaiban.

Selamat bergabung dengan kafilah para juara sejati!

SANG JUARA

Tahukah Anda bahwa Anda dilahirkan karena Anda seorang juara?. Bagaimana tidak, sedangkan Anda adalah satu di antara 200.000.000 calon manusia yang berlomba-lomba dalam sebuah ruangan sempit dan melawan arus serta jarak yang jauh untuk mencapai ovum. Bagaikan 200.000.000 manusia mencebur ke muara Bengawan Solo untuk berlomba mencapai hulu sungai. Dalam kompetisi yang dahsyat tersebut, andalah Sang Juara, dan karena itulah Anda lahir.

Demikianlah Allah mengajarkan bahwa prosesi pembentukan manusia sudah dimulai melalui kompetisi. Demikian pula aksioma kehidupan memberitahu jati dirinya, bahwa ia adalah medan pertarungan yang penuh kompetisi dan yang layak tampil hanyalah para pemilik mental juara. Adapun Sang Pecundang, hanya layak mengisi keranjang sampah sejarah.

Kompetisi adalah keniscayaan sejarah yang karenanya lahir sang juara dan sang pecundang. Itulah pilihannya. Namun, ada pertanyaan kehidupan yang mendasar, mungkinkah menjadi orang yang senantiasa menang dan tak pernah terkalahkan? Jika ya, siapakah sang juara tersebut?.

Jawabannya: sangat mungkin!, dan orangnya adalah orang yang membuat Rasulullah terpesona dengan sabdanya: “Fantastis sekali kehidupan seorang mukmin, semua momentum baik baginya. Jika mendapatkan kebaikan dia bersyukur, dan itu baik baginya. Dan jika mendapatkan musibah, dia bersabar, dan itu baik baginya”.

Ya, Sang Juara itu bernama mukmin. Ia senantiasa juara bukan karena senantiasa dapat mengalahkan lawannya, namun karena memahami hakikat dan filosofi kemenangan sejati serta senantiasa berada di dalamnya. Ia memahami bahwa kemenangan sejati adalah ketika setiap momentum memiliki makna dalam kehidupannya. Mungkin saja dia gagal, tapi dia senantiasa mampu bangkit dari setiap kegagalan. Itulah penyebab dia senantiasa menang melawan tantangan-tantangan kehidupan.

Senantiasa ada efek positif yang dirasakan oleh sang juara dalam setiap jenak-jenak kehidupannya karena dia memiliki kebiasaan produktif: diamnya adalah pikir (shamtuhu fikrun), bicaranya adalah dzikir (kalamuhu dzikrun) dan pandangannya ibrah (nadzaruhu ‘ibrah).

Senjata pertama dan utama Sang Juara bernama sabar dan syukur. Sabar merupakan mekanisme pertahanan jiwa yang tidak ada batasnya, hanya saja ia bisa berubah bentuk dalam berbagai derivasinya: dari keridhaan hati, kelembutan lisan, penghindaran konflik sampai jihad fi sabilillah, dari sikap defensif sampai ofensif. Bukankah para petarung sejati senantiasa mengatakan, “bertahan yang paling tangguh adalah dengan menyerang?”.

Syukur merupakan maksimalisasi dan optimalisasi pendayagunaan nikmat untuk menstimulasi hadirnya nikmat yang berlipat ganda. Sedangkan nikmat Allah itu beraneka ragam: potensi, energi, waktu dan sebagainya. Sang juara mengenali betul nikmat tersebut dan mampu memanfaatkannya secara efektif dan efisien dalam setiap sisi kehidupannya.

Jika syukur dan sabar telah menjadi jurus andalan. Anda telah memastikan diri untuk bersama kafilah para juara sejati. Setelah itu, bersiaplah untuk menggetarkan dunia, menggoda kemenangan dan mempesonakan sejarah sebagaimana para juara sejati terdahulu melakukannya. Siapkah?.