Saturday, September 17, 2005

'Waktu Kenaikan Harga BBM Belum Ditentukan'

(Republika-17 September 2005)

Mahasiswa terus berunjuk rasa menolak kenaikan.

JAKARTA -- Presiden belum memutuskan waktu kenaikan harga BBM kendati sudah diumumkan bakal dilakukan awal Oktober 2005. Pemerintah pun masih belum memutuskan besaran kenaikannya. Alasannya, masih terus dikaji dan menunggu realisasi penyaluran dana kompensasi kenaikan harga BBM pada 1 Maret 2005 lalu.

Menteri Sekretaris Negara Yusril Ihza Mahendra mengatakan waktu dan besaran kenaikan harga BBM yang muncul di media massa belakangan ini baru sebatas wacana. ''Keputusan mengenai itu [kenaikan] belum diambil, tapi nanti pada akhirnya Presiden akan putuskan dalam rapat kabinet,'' kata Yusril di kantornya, Jakarta, Jumat (16/9).

Yusril berjanji akan terus menyampaikan perkembangan rencana kenaikan harga komoditas yang sangat sensitif bagi rakyat ini, lantaran memang tak bisa dibendung lagi. Kata dia, pemerintah tak bisa lagi pertahankan harga BBM seperti sekarang ini, mengingat harga minyak mentah dunia sudah di atas 60 dolar AS per barel. Awal pekan ini, Wapres Jusuf Kalla mengatakan kenaikan harga BBM akan dilakukan pada awal Oktober ini. Sementara Presiden mengaku sudah mengetahui perihal rencana waktu kenaikan itu.

Mengenai besarannya, Menneg Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Sri Mulyani, menjelaskan minimum 50 persen demi menekan defisit anggaran pada APBN di bawah satu persen. Ada dua opsi besaran subsidi BBM yang ditawarkan, yakni Rp 89,2 triliun dan Rp 113,7 triliun. Jika pemerintah memilih opsi pertama, kenaikan minimalnya mesti 50 persen. Sejauh ini, Yusril menegaskan kebijakan Presiden masih tak berubah. Ia menjelaskan, kenaikan harga BBM tetap akan dilakukan awal bulan depan setelah penyaluran kompensasi BBM tuntas diberikan. Sedangkan pengertian waktu yang dimaksudkan Presiden terkait dengan tanggal pasti kenaikan itu resmi diumumkan dan diberlakukan.

Kemarin, Kalla kembali menegaskan kenaikan minimal harga BBM tetap 50 persen. ''Tapi, bisa jadi 70 atau 80 persen,'' tegasnya di Denpasar, Bali. Pada sisi lain, Kalla menyebutkan pemerintah menyiapkan dana kompensasi Rp 100 ribu per kepala keluarga. Ketua DPR, Agung Laksano, menyarankan kenaikan kembali harga BBM dilakukan setelah Lebaran, November 2005, bukan Oktober 2005. ''Secara pribadi, lebih baik menunggu habis Lebaran,'' kata Agung yang juga Wakil Ketua Umum Partai Golkar. Ia mengingatkan penentuan waktu kenaikannya perlu juga melihat ketahanan kondisi keuangan negara untuk tetap memberikan subsidi BBM.

Aksi demonstrasi mahasiswa menolak rencana kenaikan harga BBM terus berlangsung. Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Bandung Raya melakukan aksi unjuk rasa dengan menyegel pompa bensin Cikapayang, di Jl Ir H Juanda, Bandung, kemarin. Dalam aksi itu, berbagai elemen mahasiswa yang terdiri dari BEM Unpad, KM ITB, BEM UPI, dan BEM STT Tekstil, menuntut pemerintah membatalkan rencana kenaikan harga BBM. Selain itu, mereka menuntut kasus korupsi di Pertamina segera diaudit dan tim ekonomi yang dikomandani Aburizal Bakrie segera diganti.

Di Jakarta, belasan mahasiswa juga berdemonstrasi di depan Istana Negara menolak kenaikan itu. Aksi serupa juga terus bergulir sejak dua pekan ini di berbagai kota besar seperti di Medan, Makassar, Semarang, Surabaya, Bandung, dan Jakarta.

( djo/ant )

No comments: